Home » Islam » ETIKA DAN ADAB DALAM BERDOA YANG SESUAI DENGAN AS-SUNNAH

ETIKA DAN ADAB DALAM BERDOA YANG SESUAI DENGAN AS-SUNNAH

Cara Download silakan liat pada gambar bagian bawah postingan ini atau sebelah kanan blog ini. Jika safelink error, silakan buka www.imranxrhia.net

Sesuatu yang amat mulia dari seorang hamba pada Rabb-Nya adalah do’a. Hal ini disebabkan karena pada saat berdo’alah seorang hamba lebih menyatakan ketundukan dan kerendahan dirinya kepada Allah ‘Azza Wa Jalla, penuh harap kepada-Nya memohon diberikan rahmat dan dijauhkan dari murka-Nya. Dan itulah arti dari pada ibadah yang sebenarnya.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
“Tidak ada sesuatu yang mulia bagi Allah dari pada Do’a”. (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Al Hakim. Menurutnya ini hadits shahih, Adz Zahaby pun menyetujuinya).
Karenanya do’a adalah juga termasuk dalam ibadah utama. Bahkan Allah ‘Azza Wajalla
pun memerintahkan hamba-Nya untuk berdo’a dan marah kepada siapa yang enggan untuk berdo’a kepada-Nya.
Allah berfirman yang artinya:
“Dan Tuhanmu berfirman: Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari berdo’a kepada-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina. (QS. Ghafir: 60).
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
pun bersabda:

و مَنْ لَمْ يَدْعُ اللهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ .رواه أحمد، الترمذي،ابن ماجه والبخاري في الأدب المفرد
“Barangsiapa yang tidak berdo’a, Allah marah kepadanya”. (HR. Ahmad dan Bukhari dalam Adab-al Mufrad, Turmudzi dan Ibnu Majah).
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga memberikan perhatian yang besar dalam hal ini. Selain beliau sendiri bermudawamah (membiasakan diri) dengan banyak berdo’a, beliau pun mengajarkan lafadz-lafadz dari do’a-do’a tertentu sebagaimana dirinya mengajarkan surah-surah Al Qur’an. Sehingga dapat diambil suatu kesimpulan bahwa dalam berdo’a perlu bertaqayyud (membatasi diri) dengan do’a-do’a yang ma’tsur (diriwayatkan) dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Mengingat do’a adalah ibadah yang hanya dapat ditujukan kepada Allah ‘Azza Wajalla
semata, maka wajib bagi kita untuk meluruskan pemahaman dan cara kita dalam berdo’a.
Beberapa hal yang patut untuk diperhatikan dan diluruskan dalam berdo’a adalah:
1. Senantiasa berdo’a kepada Allah ‘Azza Wajalla
, baik ketika ditimpa musibah maupun tidak, Allah ‘Azza Wajalla berfirman yang artinya :
“Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdo’a kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya dia (kembali) melalui (jalan-nya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdo’a kepada Kami untuk (menghilangkan) banaya yang telah menimpanya”. (QS. Yunus: 12)
2. Tidak bermalas-malas dalam berdo’a.

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

أعْجَزُ النَّاسِ مَنْ عَجِزَعَنْ الدُّعَاءَ وَ أَبْخَلُهُمْ مَنْ بَخِلَبِالسَّلاَمِ .
“Orang yang paling lemah adalah yang lemah (malas) untuk berdo’a, dan orang yang paling kikir adalah yang kikir untuk bersalam”. (HR. Abu Ya’la, Thabrani dan Ibnu Hibban dengan sanad yang shahih).
3. Tidak melampaui batas dalam berdo’a, seperti berdo’a dengan suara nyaring dan keras.

Allah ‘Azza Wajalla
berfrman:
اُدْعُوْا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَّ خُفْيَةً إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَ
“Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS Al A’raaf: 55).

Dan termasuk dalam kategori melampaui batas dalam berdo’a adalah:
a. Terlampau mendetail (memerinci ) permohonan dalam berdo’a

Diriwayatkan oleh ‘Aisyah –radhiyallahu anha- :

كَانَ رَسُولُ اللهِ : َيْستَحِبُّ الجَّوَامِعَ مِنَ الدُّعَاءِ وَ يَدْعُ سِوَى ذَلِكَ . رواه أحمد و ابو داود
“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam biasa memilih untuk berdo’a dengan do’a-do’a yang jami’ (umum) dan meninggalkan yang selain itu. (HR. Ahmad dan Abu Daud)
b. Mendo’akan kecelakaan untuk diri sendiri, keluarga dan harta.

Firman Allah ‘Azza Wajalla
:
وَ يَدْعُ الإِنْسَانُ بِالشَّرِّ دُعَآءَهُ بِالخَيْرِ وَ كَانَ الإِنْسَانُعَجُوْلاً.
“Dan manusia merndo’a untuk kejahatan sebagaimana ia mendo’a untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.” (Al Isra’: 11).
Demikian Allah ‘Azza Wajalla
melarang hamba-hamba-Nya berdo’a untuk kejelekan bagi dirinya dan orang lain, sekalipun seorang bapak atau ibu yang mendo’akan kejelekan kepada anaknya sewaktu marah, karena dikhawatirkan do’a tersebut bertepatan dengan waktu dimana saat itu Allah ‘Azza Wajalla
menerima dan mengabulkan do’a hamba-Nya sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
:
لاَ تَدْعُوْا عَلىَ أَنْفُسِكُمْ وَلاَ تَدْعُوْا عَلىَ أَوْلاَدِكُمْ، وَلاَ تَدْعُوْا عَلىَ أَمْوَالِكُمْ، لاَتُوَافِقُوْا مِنَ اللهِ سَاعَةً يَسْأَلُ فِيْهَا عِطَاءً فَيَسْتَجِيْبُ لَكُمْ . رواه مسلم
“Janganlah kamu berdo’a untuk (kecelakaan) terhadap dirimu, begitupun terhadap anak-anakmu dan terhadap harta bandamu; jangan sampai nanti do’amu itu bertepatan dengan saat dimana Allah sedang memenuhi permohonan, hingga do’a burukmu itu benar-benar terkabul” (HR. Muslim)
c. Menyatakan dalam berdo’a
“Kabulkanlah jika Engkau menghendaki”. Disebutkan dalam hadits:
عَنْ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قاَلَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ.: إِذَا دَعَا أَحَدُكُمْ فَلْيَعْزِمْ المَسْأَلَةَ وَ لاَ يَقُوْلَنَّ : اللَّهُمَّ إِنْ شِئْتَ فَأَعْطِنِيْ فَإِنَّهُ لاَ مُسْتكْرِهَ لَهُ . رواه البخاري و مسلم
Dari Anas bin Malik RA, bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
: “Jika seseorang diantara kamu berdo’a maka hendaknya ia bersungguh-sungguh dalam memohonkannya. Dan janganlah ia berdo’a: “Ya Allah! Jika Engkau menghendaki, anugerahkanlah aku”, karena sesungguhnya tidak ada yang dapat memaksa-Nya”. (HR. Bukhari Muslim).
d. Berdo’a memohonkan terjadinya dosa ataupun terjadinya pemutusan silaaturahim.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
لاَ يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيْعَةِ رَحِمٍ مَا لَمْ يَسْتَعْجِلْ
“Akan selalu do’a seorang hamba dikabulkan selama ia tidak berdo’a untuk sebuah dosa, atau (berdo’a) untuk memutuskan silaturahmi serta selama ia tidak meminta dikabulkan dengan segera.” (HR Muslim).
4. Tidak terburu-buru dalam mengharapkan terkabulnya do’a.
Nabi SAW bersabda:
يـُسْتَجَابُ لأِحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ يَقُوْلُ دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِيْ . رواه البخارى
“Akan selalu dikabulkan do’a seseorang diantara kamu selama ia tidak meminta dikabulkan dengan segera, ia berkata: “saya sudah berdo’a tetapi belum dikabulkan permohonanku”. (HR. Bukhari).
Berkata Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu
: “Saya tidak terlalu mementingkan terkabulnya do’a tetapi yang terpenting bagiku adalah do’a itu (adalah ibadah) sehingga apabila kepentinganku adalah do’a maka ijabahnya akan mengikuti”
5. Tidak meninggalkan do’a karena lelah dan bosan.

Allah berfirman memuji sifat-sifat malaikat-malaikat-Nya:
“Dan kepunyaan-Nyalah segala yang di langit dan di bumi. Dan malaikat-malaikat yang disisi-Nya mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tida (pula) merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya”. (QS Al Anbiya’: 19-20)
6. Tidak berdoa dengan hati yang lalai.

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :
… وَ اعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ لاَ يَسْتَجِيْبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍغَافِلٍ لاَهٍ
“Ketauhilah! Sesungguhnya Allah tidak mengabulkan do’a yang datang dari hati yang lalai dan lengah”. (HR Tirmidzi dan Thabrani dari Abu Hurairah dan dihasankan oleh Al Albani).
7. Senantiasa memulai do’a dengan puji-pujian kepada Allah ‘Azza Wajalla
dan shalawat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
bersabda :
إِذَا صَلَّى أَحَدُ كُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيْدِ اللهِ وَ الثَنَاءِ ثُمَّ يُـصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ ثُمَّ يَدْعُوْ بِمَا شَاءَ . رواه ابو داود

“Apabila seseorang diantara kamu berdo’a, maka hendaklah ia mendahuluinya dengan alhamdulillah dan puji-pujian lainnya, lalu bershalawat kepada Nabi dan kemudian ia berdo’a dengan apa yang ia kehendakinya”. (HSR. Abu Daud).
Demikian beberapa hal yang patut untuk diperhatikan dan diluruskan oleh setiap muslim ketika berdo’a. Tertolak atau terkabulnya suatu do’a adalah hak prerogatif Allah ‘Azza Wajalla.

Maka selama kita mengiklaskan do’a hanya kepada Allah ‘Azza Wajalla
semata dan sesuai dengan adab dan syarat-syarat yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
maka –insya Allah- Allah ‘Azza Wajalla
akan mengabulkannya. Dan Dia Maha Mendengar semua do’a

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>